MANAJEMEN
BISNIS
MANAJEMEN
DAN MANAJER
Disusun
Oleh :
1. Yuni
Rofida : B.131.14.0085
UNIVERSITAS SEMARANG
FAKULTAS EKONOMI
2014
Kata
Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan
Yang Maha Esa, karena atas rahmat taufik dan hidayah-Nya maka penulis dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “ Organisasi dan Manajemen” dengan baik.
Makalah ini kami buat untuk mata kuliah manajemen bisnis dan untuk mencapai
suatu tujuan. Yaitu sebagai tugas kelompok untuk mendapatkan nilai yang baik
dari dosen.
Kami menyadari, dalam penulisan makalah ini masih ada
kekurangan-kekurangan karena keterbatasan kemampuan kami. Untuk itu, masukan
yang bersifat membangun akan sangat membantu kami untuk semakin membenih
kekurangannya
Ucapkan terima kasih tidak lupa kami haturkan kepada dosen
pembimbing mata kuliah ini, untuk teman teman dan semua pihak yang telah
membantu.
Terima
kasih banyak untuk semua dan yang sudah bersedia membaca makalah ini. Mungkin
apabila ada kesalahan dalam penulisannya, kami minta maaf.
Semarang, September 2014
DAFTAR
ISI
Halaman
Judul........................................................................................................... i
Kata
pengantar........................................................................................................... ii
Daftar
isi.................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
Latar
Belakang.................................................................................................... 1
Rumusan
Masalah............................................................................................... 1
Tujuan
Penulisan................................................................................................. 1
BAB II ISI
Tingkat
Manajemen............................................................................................. 2
Manajer-manajer
Fungsional dan Umum............................................................ 3
Fungsi-fungsi
yang Dilaksanakan Manajer......................................................... 4
Kegiatan-kegiatan
Manajer................................................................................. 8
BAB III
Kesimpulan................................................................................................................ 9
Daftar
Pustaka........................................................................................................... 10
BAB I
Pendahuluan
1. Latar
belakang
Setiap
manusia mempunyai tujuan yang berbeda dalam hidupnya, karena pengaruh
pengetahuan dan pengalamannya yang berbeda. Namun setiap manusia akan sama
dalam satu hal yaitu ingin mempertahankan hidup dan memenuhi kebutuhan
hidupnya. Untuk mencapai tujuan itu manusia harus melakukan aktivitas-aktivitas
tertentu.
Oleh karena manusia secara kodrat terbatas
kemampuannya maka untuk mencapai tujuannya, manusia memerlukan bantuan dari
manusia lainnya. Untuk itu manusia harus bekerja dalam mencapai tujuannya atau
berorganisasi.
Dalam organisasi
diperlukan manajemen yaitu sesuatu untuk mengatur, mengkoordinasikan semua
tugas yang dilakukan oleh orang-orang dan mengarahkannya kepada tujuan yang
hendak dicapai. Supaya unsur-unsur manajemen tertuju serta terarah kepada
tujuan yang diinginkan, maka manajemen harus ada yang mengatur yaitu seorang
pemimpin dengan wewenang kepemimpinannya melalui intruksi dan persuasi.
2.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah
diuraikan, dapat dirumuskan masalah-masalah yang akan dibahas pada penulisan
kali ini. Masalah yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Tingkat
manajemen
2. Manajer-manajer
Fungsional dan Umum
3. Fungsi-fungsi
yang dilaksanakan Manajer
4. Kegiatan
yang dilakukan manajer
3. Tujuan
Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah agar
mahasiswa paham mengenai Arti Manajemen dan Manajer sebagai bahan evaluasi dan sebagai bentuk referensi
yang akan kita implementasikan kedepanya di dunia kerja, yang
diharapkan dapat juga bermanfaat bagi para pembaca dalam kehidupan sehari-hari.
BAB II
ISI
1.
Tingkatan
Manajemen
Tingkatan manajemen dalam organisasi akan membagi manajer menjadi tiga
golongan yang berbeda :
1.
Manajer lini – pertama. Tingkatan paling rendah dalam
suatu organisasi yang memimpin dan mengawasi tenaga-tenaga operasional, disebut
manajemen lini/garis – pertama (first – line atau first level). Para manajer
ini sering disebut dengan kepala atau pimpinan (leader), mandor (foremen), dan
penyelia (supervisors). Sebagai contoh adalah mandor dalam pabrik, kepala seksi
yang langsung membawahi tenaga pengetik dan pembukuan dalam kantor yang besar,
dan penyelia teknik dalam suatu departemen riset.
2.
Manajer menengah. Manajemen menengah dapat meliputi
beberapa tingkatan dalam suatu organisasi. Para manajer menengah membawahi dan
mengarahkan kegiatan-kegiatan para manajer lainnya dan kadang-kadang juga
karyawan operasional. Sebutan lain bagi manajer menengah adalah manajer
departemen, kepala pengawas (superintendents) dan sebagainya. Sebagai contoh
kepala bagian yang membawahi beberapa kepala seksi, atau kepala sub divisi
perusahaan yang membawahi beberapa kepala sub bagian.
3.
Manajer puncak. Klasifikasi manajer tertinggi ini
terdiri dari sekelompok kecil eksekutif. Manajemen puncak bertanggung jawab
atas keseluruhan manajemen organisasi. Sebutan khas bagi manajer puncak adalah
direktur, presiden, kepala divisi, wakil presiden senior, dan sebagainya.
Tingkatan –
tingkatan manajemen dalam suatu organisasi dapat digambarkan berikut ini :
2.
Manajer-Manajer
Fungsional dan Umum
Atas dasar ruang lingkup kegiatan
yang dikelola, para manajer dapat pula diklasifikasikan sebagai manajer
fungsional mempunyai tanggung jawab hanya atas satu kegiatan organisasi seperti
produksi, pemasaran, keuangan, kepegawaian (personalia) atau akuntansi.
Kegiatan-kegiatan dari fungsi lainnya ada di bawah tanggung jawab
manajer-manajer fungsional lainnya. Sebagai contoh, manajer pemasaran bertanggung
jawab atas seluruh kegiatan distribusi tetapai harus minta bantuan kepada
manajer personalia untuk masalah-masalah tenaga penjualan.
Pada tingkatan manajemen yang lebih
tinggi, manajer umum mengatur, mengawasi dan bertanggung jawab atas satuan
kerja keseluruhan atau divisi operasi yang mencakup semua atau beberapa
kegiatan-kegiatan fungsional satuan kerja.
Gambar
dibawah ini akan akan menjelaskan hubungan antara kedua tipe manajer :
3.
Fungsi-Fungsi
yang Dilaksanakan Manajer
Manajemen
dapat berarti pencapaian tujuan melalui pelaksanaan fungsi-fungsi tertentu,
tetapi dalam hal ini belum ada persamaan pendapat dari para ahli manajemen
tentang apa fungsi-fungsi itu. Salah satu klasifikasi paling awal dari
fungsi-fungsi manajerial dibuat oleh Hendri Fayol, yang menyatakan bahwa
perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, pemberian perintah dan
pengawasan adalah fungsi-fungsi utama.
Dalam pembahasan ini
akan diperinci lima fungsi yang menurut penulis paling penting – planning,
organizing, staffing, leading, dan controlling kegiatan – kegiatan organisasi.
Perincian lebih detail ada pada bagian – bagian selanjutnya.
1. Perencanaan
Rencana-rencana
dibutuhkan untuk memberikan kepada organisasi tujuan-tujuannya tdana menetapkan
prosedur terbaik untuk pencapaian tujuan-tujuan itu. Di samping itu, rencana
memungkinkan :
1. Organisasi
bisa memperoleh dan mengikat sumberdaya-sumberdaya yang diperlukan untuk
mencapai tujuan-tujuan.
2. Para
anggota organisasi untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang konsisten dengan
berbagi tujuan dan prosedur terpilih
3. Kemajuan
dapat terus dimonitor dan diukur, sehingga tindakan korektif dapat diambil bila
tingkat kemajuan tidak memuaskan.
Perencanaan (planning) adalah pemilihan
atau penetapan tujuan-tujuan organisasi dan penentuan strategi, kebijaksanaan,
proyek, program, prosedur, metode, sistem, anggaran dan standar yang dibutuhkan
untuk mencapai tujuan. Pembuatan keputusan banyak terlibat dalam fungsi ini.
Dimulai oleh karya Frederick W. Taylor
pada akhir 1800-an, ada kecenderungan untuk mengalihkan fungsi perencanaan dari
karyawan operasi ke para manajer. Walaupun perencanaan tidak dapat sepenuhnya
dipisahkan dari kegiatan-kegiatan para karyawan, hal ini merupakan suatu bagian
yang terpadu (integral) dari jabatan manajer. Pada dasarnya perencanaan kreatif
merupakan pekerjaan penentuan faktor-faktor, kekuatan, pengaruh dan
hubungan-hubungan dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
Semua fungsi lainnya sangat pada fungsi
ini, dimana fungsi lain tidak akan berhasil tanpa perencanaan dan pembuatan
keputusan yang tepat, cermat dan kontinyu. Tetapi sebaliknya perencanaan yang
baik tergantung pelaksanaan efektif fungsi-fungsi lain.
2. Pengorganisasian
Setelah para manajer menetapkan
tujuan-tujuan dan menyusun rencana-rencana atau program-program untuk
mencapainya,maka mereka perlu merancang dan mengembangkan suatu organisasi yang
akan dapat melaksanakan berbagai program tersebut secara sukses.
Pengorganisasian (organizing) adalah
penentuan sumberdaya-sumberdaya dan kegiatan-kegiatan yang dibutuhkan untuk
mencapai tujuan organisasi, perancang dan pengembangan suatu organisasi atau
kelompok kerja yang akan dapat “membawa” hal-hal tersebut ke arah tujuan,
penugasan tanggung jawab tertentu dan kemudian, pendelegasian wewenang yang
diperlukan kepada individu-individu dan melaksanakan tugas-tugasnya. Fungsi ini
menciptakan struktur formal di mana pekerjaan ditetapkan, dibagi dan
dikoordinasikan.
Manajer perlu mempunyai kemampuan untuk
mengembangkan (dan kemudian memimpin) tipe organisasi yang sesuai dengan
tujuan, rencana dan program yang telah ditetapkan. Perbedaan tujuan akan
membutuhkan jenis organisasi yang berbeda pula.
3. Penyusunan
Personalia
Penyusunan
personalia (staffing) adalah penarikan (recruitment), latihan dan pengembangan,
serta penempatan dan pemberian orientasi para karyawan dalam lingkungan kerja
yang menguntungkan dan produktif. Dalam pelaksanaan fungsi ini manajemen
menentukan persyaratan-persyaratan mental, phisik, dan emosional untuk
posisi-posisi jabatan yang ada melalui analisa jabatan, deskripsi jabatan dan
spesifikasi jabatan dan kemudian menarik karyawan yang diperlukan dengan
karakteristik-karakteristik personalia tertentu seperti keahlian, pendidikan,
umur, latihan, dan pengalaman. Fungsi ini mencakup kegiatan-kegiatan seperti
pembuatan sistem penggajian untuk pelaksanaan kerja yang efektif ; penilaian
karyawan untuk promosi, transfer, atau bahkan demosi dan pemecatan ; serta
latihan dan pengembangan karyawan.
Beberapa
literatur manajemen memasukan fungsi staffing sebagai bagian dari fungsi
organizing. Ada juga yang menempatkan staffing sebagai hal yang terpisah dari
fungsi manajemen dan memperlakukannya sebagai bagian dari fungsi kepemimpinan
(leader ship). Dalam pembahasan disini, fungsi staffing diuraikan terpisah
sebagai salah satu fungsi manajemen, karena penulis memandang bahwa
perkembangan dunia bisnis (di mana sumber daya manusia merupakan kunci sukses
perusahaan) menyebabkan fungsi tersebut menjadi semakin penting. Tetapi dalam
pembahasan selanjutnya, fungsi ini ditempatkan pada satu bagian dengan fungsi
pengorganisasian untuk menekankan bahwa sebenarnya kedua fungsi tersebut saling
berkaitan erat-pengorganisasian merancang “wadahnya” dan fungsi staffing
memberi “isinya”.
4. Pengarahan
Sesudah
rencana dibuat, organisasi di bentuk dan disusun personalianya, langkah
berikutnya adalah menugaskan karyawan untuk bergerak menuju tujuan yang telah
ditentukan. Fungsi pengarahan (leading), secara sederhana adalah untuk membuat
atau mendapatkan para karyawan melakukan apa yang diinginkan, dan harus mereka
lakukan. Fungsi ini melibatkan kualitas, gaya, dan kekuasaan pemimpin serta
kegiatan-kegiatan kepemimpinan seperti komunikasi, motivasi dan disiplin.
Fungsi leading sering disebut dengan bermacam-macam nama antara lain leading,
directing, motivating, actuating atau lainnya.
5. Pengawasan
Semua
fungsi terdahulu tidak akan efektif tanpa fungsi pengawasan (controlling), atau
sekarang banyak digunakan istilah pengendalian. Pengawasan (controlling) adalah
penemuan dan penerapan cara dan peralatan untuk menjamin bahwa rencana telah
dilaksanakan sesuai dengan yang telah ditetapkan. Hal ini dapat positif maupun
negatif. Pengawasan positif mencoba untuk mengetahui apakah tujuan organisasi
dicapai dengan efisien dan efektif. Pengawasan negatif mencoba untuk menjamin
bahwa kegiatan yang tidak diinginkan atau dibutuhkan tidak terjadi atau terjadi
kembali.
Fungsi
pengawasan pada dasarnya mencakup empat unsur yaitu
1.
Penetapan standar pelaksanaan,
2.
Penentuan ukuran-ukuran pelaksanaan
3.
Pengukuran pelaksanaan nyata dan membandingkannya dengan standar yang telah
ditetapkan, dan
4.
Pengambilan tindakan koreksi yang diperlukan bila pelaksanaan menyimpang dari
standar.
Hubungan di
antara fungsi-fungsi manajemen dapat dijelaskan dengan gambar di bawah ini :
Hubungan
antara kegiatan – kegiatan produksi, personalia, pemasaran, keuangan,
akuntansi, dan sebagainya dengan fungsi – fungsi manajemen dapat di lihat
digambar di atas.
4.
Kegiatan-kegiatan
Manajer
Definisi
manajemen di muka menyebutkan bahwa manajer adalah perencana, pengorganisasi,
pemimpin (atau pengarah) dan pengawas. Dalam kenyataannya, setiap manajer
mengambil peranan yang lebih luas untuk menggerakan organisasi dan menuju
sasaran-sasaran yang telah ditetapkan. Agar konsep tentang manajer menjadi
lebih jelas, berikut ini akan diuraikan secara terinci apa tugas-tugas penting
yang dilaksanakan manajer :
1. Manajer
bekerja dengan dan melalui orang lain. Istilah “orang” mencakup tidak hanya
para bawahan dan atasan, tetapi juga manajer-manajer lainnya dalam organisasi.
Di samping itu “orang” juga termasuk individu-individu dari luar organisasi
langganan, penyedia (supplier), konsumen atau langganan, pengurus serikat
karyawan kantor-kantor pemerintah, dan sebagainya
2. Manajer
memadukan dan menyeimbangkan tujuan-tujuan yang saling bertentangan dan
menetapkan prioritas-prioritas. Setiap manajer akan menghadapi sejumlah tujuan,
masalah dan kebutuhan organisasional yang semuanya ini bersaing untuk
memperebutkan sumberdaya-sumberdaya organisasi (manusia, material, atau bahkan
waktu manajer). Karena berbagai sumberdaya tersebut selalu terbatas, manajer
harus menjaga keseimbangan di antara berbagai tujuan dan kebutuhan
organisasional.
3. Manajer
bertanggungjawab dan mempertanggungjawabkan. Para manajer ditugaskan untuk
mengelola pekerjaan-pekerjaan tertentu secara sukses. Mereka biasanya
dievaluasi atas dasar seberapa baik mereka mengatur tugas-tugas yang harus
diselesaikan. Lebih lanjut, manajer juga bertanggung jawab atas
kegiatan-kegiatan para bawahannya. Sukses atau kegagalan bawahan adalah
cerminan langsung sukses atau kegagalan manajer.
4. Manajer
harus berpikir secara analitis dan konsepsual. Untuk menjadi pemikir yang
analitis, manajer harus mampu merinci dan memisah-misahkan suatu masalah
menjadi komponen-komponen tersebut, dan kemudian mencari penyelesaian yang
layak (feasible) dengan akurat. Dan yang lebih penting bagi manajer adalah
menjadi pemikir konsepsual, yang mampu memandang keseluruhan tugas dan
mengkaitkan suatu tugas dengan tugas-tugas lain.
5. Manajer
adalah seorang mediator. Organisasi terdiri dari orang-orang, dan kadang-kadang
mereka saling tidak bersetuju atau saling bertentangan. Bila hal itu terjadi
dalam suatu unit kerja atau organisasi, maka bisa menurunkan semangat kerja dan
produktifitas, atau bisa merusak suasana kerja, atau bahkan para karyawan yang
cakap bisa meninggalkan organisasi. Kejadian-kejadian seperti ini menuntut
peranan manajer sebagai mediator (penengah).
6. Manajer
adalah seorang politisi. Seperti apa yang dilakukan politisi dalam
mengkampanyekan program-progamnya. Manajer harus mengembangkan
hubungan-hubungan baik untuk mendapatkan dukungan atas kegiatan-kegiatan
usulan-usulan atau keputusan-keputusannya. Setiap manajer yang efektif
“memainkan politik” dengan mengembangkan jaringan kerjasama timbal balik dengan
para manajer lain dalam organisasi.
7. Manajer
adalah seorang diplomat. Manajer mungkin harus berperan sebagai wakil
(repesentatif) resmi kelompok kerjanya pada pertemuan-pertemuan organisasional.
Manajer juga mungkin mewakili organisasi dalam berurusan dengan kontraktor,
langganan, pejabat pemerintah, atau personalia organisasi lain.
8. Manajer
mengambil keputusan-keputusan sulit. Organisasi selalu menghadapi banyak
masalah misal kesulitan finansial , masalah personalia , dan sebagainya.
Manajer ialah orang yang diharapkan dapat menemukan pemecahan berbagai masalah
sulit dan mengambil berbagai keputusan yang akurat.
Kegiatan-kegiatan yang
dilakukan Manajer
Pada
dasarnya kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh para manajer dapat
diklasifikasikan ke dalam empat kelompok yaitu : pribadi, teknis, administratif
dan intereraksional. Kegiatan ini berhubungan dengan dan dapat dipelajari dalam
fungsi-fungsi manajerial. Pemaduan kegiatan-kegiatan ini dengan fungsi –
funginya, akan didapatkan pandangan yang menyeluruh tentang kegiatan manajer.
Peran – Peran Manajer
Henry Mintzberg, seorang
ahli riset ilmu manajemen, mengemukakan bahwa ada sepuluh peran yang dimainkan
oleh manajer di tempat kerjanya. Ia kemudian mengelompokan kesepuluh peran itu
ke dalam tiga kelompok, yaitu:
1. Peran
antarpribadi
Merupakan peran yang
melibatkan orang dan kewajiban lain, yang bersifat seremonial dan simbolis.
Peran ini meliputi peran sebagai figur untuk anak buah, pemimpin, dan
penghubung.
2. Peran
informasional
Meliputi peran manajer
sebagai pemantau dan penyebar informasi, serta peran sebagai juru bicara.
3. Peran
pengambilan keputusan
Yang termasuk dalam kelompok ini adalah peran
sebagai seorangwirausahawan,
pemecah masalah, pembagi sumber daya, dan perunding.
Adapun jenis – jenis keputusan yang dihasilkan dari
seorang manajer adalah sebagai berikut:
a. Keputusan Terperogram
Keputusan
terperogram adalah keputusan yang diambil berdasarkan kebiasaan, peraturan atau prosedur
tertentu. Kebijakan yang mempermudah pengambilan keputusan dalam situasi yang berulang–ulang
dengan membatasi atau bahkan meniadakan alternative.bila suatu masalah timbul kembali dan bila unsur komponennya dapat
ditentukan,diramalkan dan dianalisis, maka masalah tersebut dapat
dipecahkan dengan pengambilan keputusan terperogram.
b. Keputusan Tidak Terperogram
Keputusan tidak terperogram
adalah untuk memecahkan masalah yang luar biasa atau
masalah istimewa. Jika suatu masalah jarang sekali muncul sehingga tidak tercakup oleh suatu
kebijakan atau masalah tersebut sedemikian penting sehingga membtuhuhkan perlakuan
khusus, maka masalah tersebut harus ditangani dengan suatu keputusan tidak
terperogram. Misalnya, seseorang berada pada posisi yang lebih tinggi dalam hirarki
organisasi, kemampuan untuk mengambil keputusan tidak terperogram menjadi lebih
penting, karena secara progresif lebih banyak keputusan tidak terperogram.
Mintzberg kemudian
menyimpulkan bahwa secara garis besar, aktivitas yang dilakukan oleh manager
adalah berinteraksi dengan orang lain.
Bagaimana Manajer Menggunakan Waktunya
seorang manager mencoba mengola waktu dengan baik misalnya dengan
menjalankan 10 prinsip di bawah ini :
1.
Prinsip
Analisis Waktu. Analisis waktu adalah pra-syarat bagi pengelolaan waktu.
Pembuatan catatan waktu harian dari kegiatan yang mencatat jarak waktu 15
sampai 30 menit, selama waktu tidak kurang dari dua minggu, adalah esensial
sebagai dasar dari analisis.
2.
Prinsip
Perencanaan Harian. Rencana harian yang dirumuskan setelah jam kerja hari
sebelumnya, atau di pagi hari sekali sebelum jam kerja dimulai; dan disesuaikan
secara obyektif dengan kejadian yang hampir selesai; ini esensial untuk
penggunaan efektif dari waktu pribadi.
3. Prinsip Menjadwalkan Menurut Prioritas. Waktu
yang tersedia dalam hari kerja harus dijadwalkan untuk menyelesaikan item kerja
yang mempunyai prioritas tertinggi.
4. Prinsip Keluwesan. Keluwesan atau
fleksibilitas harus menjadi pertimbangan utama dalam pemilihan rencana mengenai
pemanfaatan waktu pribadi. Atau jika dikatakan dengan sederhana: janganlah
menjadwalkan waktu lebih atau kurang!
5. Prinsip Pendelegasian. Pendelegasian dari semua item kerja konsisten dengan pembatasan pekerjaan manajer, penting untuk menyediakan waktu yang lebih diperlukan bagi pekerjaan manajerial.
5. Prinsip Pendelegasian. Pendelegasian dari semua item kerja konsisten dengan pembatasan pekerjaan manajer, penting untuk menyediakan waktu yang lebih diperlukan bagi pekerjaan manajerial.
6. Prinsip Segmentasi Aktif. Item pekerjaan yang
serupa sifatnya, yang memerlukan sumber dan keadaan lingkungan serupa untuk
penyelesaiannya, harus dikelompokkan dalam pembagian hari kerja.
7. Prinsip Pengendalian Gangguan. Pengendalian
dan / atau pengaturan kegiatan lain, yang mencukupi untuk meminimalkan banyak
dan lamanya gangguan, sangat penting bagi pengelolaan waktu.
8. Prinsip Meminimalkan Pekerjaan Rutin. Item
pekerjaan yang bersifat rutin dan tidak mengandung banyak nilai secara obyektif
pada umumnya, harus diminimalkan.
9. Prinsip Penerapan Rencana dan Tindak-Lanjut.
Penerapan rencana harian dan tindak-lanjut harian, sangat penting bagi
pengelolaan waktu.
10. Prinsip Analisis Berulang. Analisis
penggunaan waktu harus diulang, paling tidak sekali setiap enam bulan, untuk
mencegah kembali ke kebiasaan pengelolaan waktu yang buruk.
Kesepuluh prinsip waktu tersebut di atas, telah dirumuskan oleh Prof. John W. Lee dari The Florida State University, yang bisa dicoba juga dibuat prinsip mengelola waktu dan pengembangan bisnis kita. Bahkan mungkin saja, seorang manajer dapat merumuskan prinsip tambahan lagi, yang semakin menyempurnakan kesepuluh prinsip tersebut.
Mahoney
dan kawan - kawan juga meneliti perbedaan penggunaan waktu dari tingkatan
manajemen yang berbeda pula, yang hasilnya secara ringkas tampak pada gambar di
bawah ini :
Ketrampilan –
ketrampilan Manajerial
Bila kita asumsikan bahwa
manajer adalah seorang yang mengarahkan aktivitas dari orang lain dan mengambil
tanggung jawab terhadap pencapaian suatu tujuan (objective) melalui usaha
tersebut, maka seorang manajer yang sukses biasanya adalah mereka yang mempunyai
3 (tiga) keterampilan dasar, yaitu: keterampilan teknis(technical skill),
keterampilan inter-personal(human skill), dan keterampilan konseptual
(conceptual skill).
Lalu sebenarnya apa yang dimaksud dengan keterampilan manajerial itu? Menurut
Bigelow (1998), sebenarnya tidak banyak teks yang mendefinisikan apa yang dimaksud dengan keterampilan manajerial. Banyak teks yang lebih menekankan
kepada proses pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan daripada
mendefinisikan secara spesifik keterampilan manajerial. Namun berdasarkankompilasi
beberapa teks, keterampilan manajerial berkaitan dengan teori, teknik, dan
pedoman perilaku, yang bila diaplikasikan secara tepat akan meningkatkan
performa keberhasilan seorang manager. Sekarang, mari kita telaah lebih lanjut
ranah properti keterampilan ini.
A. Keterampilan
Teknis
Keterampilan ini meliputi
pemahaman dan kompetensi dalam aktivitas yang spesifik, khususnya yang
berkaitan dengan suatu metode, proses, prosedur tertentu yang bersifat teknis.
Ia melibatkan pengetahuan dan kemampuan analitis yang khusus dan mempunyai
tahapan pemecahan masalah (troubleshooting) yang relative baku/standar. Dalam
terminologi pelatihan, maka pelatihan yang berkaitan dengan pekerjaan
(vocational dan on the job training) besar manfaatnya dalam rangka
mengembangkan keterampilan ini.
B. Keterampilan Inter-personal
Ini berhubungan dengan
kemampuan untuk bekerja dengan, memahami dan memotivasi orang lain, memahami
sudut pandang dan perilaku atasan, rekan sejawat, dan bawahan terhadap suatu
masalah dan memposisikan dirinya secara proporsional. Seseorang yang mempunyai
kemampuan ini kiranya cukup sensitive terhadap keinginan dan motivasi orang
lain dalam kelompoknya sehingga dia dapat memperkirakan tindakan apa yang perlu
dan hasil yang yang diharapkan.
Keterampilan ini bisa juga diklasifikasikan dalam :
a. kepemimpinan dalam kelompok sendiri (intra-group skill), dan
b. keterampilan dalam mengelola hubungan antar kelompok (inter-group skill).
Dalam ranah tingkat manajemen,
intra-group skill mempunyai peran dominan pada kelompok manajer dasar (first
line management) dan menengah (middle management), maka inter-group skill
sangat dirasakan penting peranannya pada manajer tingkat atas (higher level/top
management).
Untuk menguasai keterampilan ini, seorang manajer harus dapat mengembangkan
sendiri persepsi
pribadinya terhadap aktivitas orang lain sehingga ia dapat:
a.
mengenali
perasaan dan sentimen dalam situasi tertentu;
b.
mempunyai
sikap terhadap pengalamannnya sendiri dan berusaha untuk belajar dari pengalaman itu;
c.
mengembangkan
kemampuan untuk memahami apa yang ingin disampaikan seseorang melalui tindakan
dan kata-kata mereka;
d.
mengembangkan
kemampuan untuk mengkomunikasikan ide dan sikapnya kepada orang lain secara
tepat.
Pelatihan yang bersifat spontan dan dipandu oleh seorang pelatih yang berpengalaman dapat memberikan nuansa positif bagi pengenalan dan pengembangan keterampilan ini.
C. Keterampilan Konseptual
Keterampilan ini melibatkan
kemampuan untuk melihat suatu perusahaan/organisasi secara utuh, mengenali cara
kerja dan ketergantungan bermacam-macam fungsi yang ada, dan lebih jauh lagi
untuk memahami hubungan antara perusahaan/organisasinya dan industri, masyarakat,
dan situasi ekonomi dan sosial secara umum.
Pada dasarnya keterampilan ini
lebih banyak melibatkan intuisi seorang manajer sehingga ia dapat memahami
gejala-gejala umum dan keterkaitan antar variabel-variabel elementer,
memberikan penekanan dan prioritas pola tindakan, serta dapat memperkirakan
kencenderungan dan probabilitas hasil dari tindakan yang akan dilakukan. Di
luar teknis pelatihan manajemen, prinsip ‘learning by doing’ sangat dirasakan
penting untuk mengasah keterampilan konseptual ini. Sedangkan pelatihan
manajemen strategi, pola promosi kepada karyawan untuk menduduki posisi lebih
tinggi dan melibatkan kerja antar kelompok juga merupakan beberapa upaya untuk
mengembangkan keterampilan ini secara lebih terstruktur.
Robert L.ktz pada tahun 1970
mengemukakan bahwa setiap manajer membutuhkan minimal tiga keterampilan dasar. Ketiga
keterampilan tersebut adalah:
1. Keterampilan konseptual (conceptional skill)
Manajer
tingkat atas (top manager) harus memiliki keterampilan untuk membuat
konsep, ide, dan gagasan demi kemajuan organisasi. Gagasan atau ide serta
konsep tersebut kemudian haruslah dijabarkan menjadi suatu rencana kegiatan
untuk mewujudkan gagasan atau konsepnya itu. Proses penjabaran ide menjadi
suatu rencana kerja yang kongkret itu biasanya disebut sebagaiproses
perencanaan atau planning. Oleh karena itu, keterampilan
konsepsional juga meruipakan keterampilan untuk membuat rencana kerja.
2. Keterampilan berhubungan dengan orang lain (humanity skill)
Selain
kemampuan konsepsional, manajer juga perlu dilengkapi dengan keterampilan
berkomunikasi atau keterampilan berhubungan dengan orang lain, yang disebut
juga keterampilan kemanusiaan. Komunikasi yang persuasif harus selalu
diciptakan oleh manajer terhadap bawahan yang dipimpinnya. Dengan komunikasi
yang persuasif, bersahabat, dan kebapakan akan membuat karyawan merasa dihargai
dan kemudian mereka akan bersikap terbuka kepada atasan. Keterampilan
berkomunikasi diperlukan, baik pada tingkatan manajemen atas, menengah, maupun
bawah.
3. Keterampilan teknis (technical skill)
Keterampilan
ini pada umumnya merupakan bekal bagi manajer pada tingkat yang lebih rendah.
Keterampilan teknis ini merupakan kemampuan untuk menjalankan suatu pekerjaan
tertentu, misalnya menggunakan program komputer, memperbaiki mesin, membuat
kursi, akuntansi dan lain-lain.
Selain tiga keterampilan dasar
di atas, Ricky W. griffin menambahkan dua keterampilan dasar yang perlu
dimiliki manajer, yaitu:
1.
Keterampilan
manajemen waktu
Merupakan keterampilan yang merujuk pada kemampuan seorang manajer untuk
menggunakan waktu yang dimilikinya secara bijaksana. Griffin mengajukan contoh
kasus Lew Frankfort dari Coach. Pada tahun 2004, sebagai manajer, Frankfort
digaji $2.000.000 per tahun. Jika diasumsikan bahwa ia bekerja selama 50 jam
per minggu dengan waktu cuti 2 minggu, maka gaji Frankfort setiap jamnya adalah
$800 per jam—sekitar $13 per menit. Dari sana dapat kita lihat bahwa setiap
menit yang terbuang akan sangat merugikan perusahaan. Kebanyakan manajer, tentu
saja, memiliki gaji yang jauh lebih kecil dari Frankfort. Namun demikian, waktu
yang mereka miliki tetap merupakan aset berharga, dan menyianyiakannya berarti
membuang-buang uang dan mengurangi produktivitas perusahaan.
2. Keterampilan
membuat keputusan
Merupakan
kemampuan untuk mendefinisikan masalah dan menentukan cara terbaik dalam
memecahkannya. Kemampuan membuat keputusan adalah yang paling utama bagi
seorang manajer, terutama bagi kelompok manajer atas (top manager).
Griffin mengajukan tiga langkah dalam pembuatan keputusan. Pertama, seorang
manajer harus mendefinisikan masalah dan mencari berbagai alternatif yang dapat
diambil untuk menyelesaikannya. Kedua, manajer harus mengevaluasi setiap
alternatif yang ada dan memilih sebuah alternatif yang dianggap paling baik.
Dan terakhir, manajer harus mengimplementasikan alternatif yang telah ia pilih
serta mengawasi dan mengevaluasinya agar tetap berada di jalur yang benar.
4.
Ketrampilan Administratif ( Administratif Skills ) adalah keseluruhan ketrampilan yang berkaitan dengan perencanaan,pengorganisasian ,penyusunan kepegawaian dan pengawasan. Ketrampilan ini mencakup kemampuan untuk mengikuti kebijaksanaan dan prosedur , mengelola dengan anggaran terbatas,dan sebagainya. Ketrampilan administrative adalah suatu perluasan dari ketrampilan konseptual . Manajer melaksanakan keputusan melalui penggunaan ketrampilan administrative dan kemampuan kemanusiaan.
Kesimpulan
Berdasarkan uraian sebelumnya, pada bab ini
penulis mengemukakan beberapa kesimpulan
1. Seorang manajer harus
mempunyai kemampuan untuk mendiagnosa , melakukan investigasi , identifikasi ,
dan memutuskan untuk di implementasikan sebagai upaya pemecahan masalah yang di hadapi.
2. Seorang manajer harus
dapat mengatur waktu , menempatkan program dan tindakan sesuai waktu yang
tepat (Time manajemen skill)
3. Seorang manajer mampu merumuskan , menganalisis
, mendiagnosis ,
memutuskan dan memilih
tindakan terbaik untuk kepentingan Perusahaan.
Demikian yang dapat kami paparkan
mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih
banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan
kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Kami banyak
berharap adanya kritik dan saran yang membangun kepada kami demi sempurnanya
makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan – kesempatan berikutnya.
Semoga
makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca pada umumnya.
Daftar Pustaka
1. Pengantar
Manajemen : Amirullah dan Haris Budiyono
2. Manajemen
: T. Hani Handoko
Tidak ada komentar:
Posting Komentar